Mempancasilakan Generasi Muda

Saya barangkali termasuk Warga Negara yang cukup beruntung. Alhamdulillah, karena sampai hari ini setelah melewati hampir 45 tahun masih hafal sila demi sila dari Pancasila.

Sebagaimana saya masih menghafal isi-beberapa surah-surah Al-Quran dan terjemahannya. Dalam hal ini, saya patut ucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu guru sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar SDN 001 Pekanbaru yang begitu gigih membimbing anak didiknya hingga hafal sila demi sila Pancasila, bahkan sampai kepada isi-isinya “Preambule” atau Pembukaan UUD 1945.

Tentunya tidak lupa pula kepada jasa-jasa bapak di rumah yang sekarang sudah berpulang ke Rahmatullah yang selalu memasang poster sila-sila dan buti-butir “Pancasila” di rumah.

Begitulah orangtua jaman dulu mempunyai cara membimbing generasi muda dalam membangun karakter anak-anak didiknya. Rasanya belum lengkap menjadi seorang anak Indonesia kalau belum bisa menghafal sila demi sila dari “Pancasila”. Rasanya belum lengkap pula menjadi orang Indonesia kalau belum hafal menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.

Saya semula ingin menuliskan pokok pikiran tentang “Pancasila” dari sudut pandang historis dan kebudayaan.

Tetapi saya masih berutang tulisan dengan tema yang mengkaitkan antara generasi muda dan Pancasila. Ini sangatlah penting sekali, karena “Pancasila” merupakan dasar-dasar terbentuknya pembangunan karakter (character building) dari bangsa Indonesia.

Saya ulangi lagi, bahwa “Pancasila merupakan dasar-dasar terbentuknya pembangunan karakter dari bangsa Indonesia.” Kalau dibuatkan perumpamaan, sebelum membangun rumah, maka yang kita butuhkan berupa sepetak tanah. Berapapun mahalnya ongkos membangun suatu rumah atau bangunan, tetapi tanpa adanya sertifikat tanah, meskipun dijual semurah apapun, tidak akan ada yang mau membeli.

Karena pada prinsipnya, tanpa adanya sepetak tanah itu, maka bangunan rumah apapun tidak akan pernah ada. Kalau dasar dari fondasi pembangunan karakter itu tidak ada, maka karakter bangsa itu tidak akan pernah terbentuk. Jika suatu bangsa yang tidak memiliki karakternya sendiri, niscaya bangsa itu tidak akan pernah ada.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh salah satu anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Barat, yakni Eni Sumarni menyebutkan sebanyak 40% mahasiswa tidak hafal Pancasila (Republika.co.id, Rabu, 6 April 2016, 16.34).

Masih belum terlalu lama, sekitar hampir 4 tahun yang silam, sebanyak 5 siswa yang terjaring razia jam sekolah malah tidak ada hapal satu pun sila dari “Pancasila” (Detik.com, Kamis, 6 Agustus 2015, 16.13). Sedikit mundur ke belakang di tahun 2014, sebuah LSM menyebarkan ujian tertulis untuk menguji kemampuan siswa SMP dan SMA di Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur (sekarang Provinsi Kalimantan Utara) menyebutkan banyak siswa yang tidak hafal Pancasila (KoranKaltim.com, 25 Februari 2014). Sayangnya didalam berita tersebut tidak disebutkan berapa banyak persentasenya.

Kembali ke Pulau Jawa, tepatnya di Kota Depok, sebagaimana yang dilaporkan oleh Agus Sutondo di dalam blog “Taman Aspirasi Tumaritis” menyebutkan survei dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Depok pada tahun 2013. Berdasarkan hasil survei tersebut, sebanyak 70% pelajar tidak hafal sila demi sila dari “Pancasila”.

Pembaca barangkali bertanya-tanya, apakah pentingnya (urgensi) menghafal Pancasila yang hanya terdiri dari 5 sila? Toh, lima sila tadi masih tetap utuh tulisannya sampai hari ini.

Tidak ada yang salah dengan pertanyaan tersebut, tetapi buat saya membutuhkan penjelasan tidak sederhana. Marilah saya mengajak pembaca kepada berita-berita berikut ini.

Suatu ketika ada masyarakat sempat dibuat gempar oleh berita kriminal, yakni karena masalah skripsi, seorang mahasiswa menikam dosennya (Republika.com, Selasa, 3 Mei 2016, 15.59). Hanya karena masalah bimbingan skripsi yang barangkali tidak kunjung bertemu titik temu, seorang mahasiswa dari kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) harus menewaskan dosen pembimbingnya, seorang dosen senior bernama Dra. Hj. Nurain Lubis yang sudah berusia 63 tahun.

Barangkali pembaca akan bertanya, apakah kasus di atas bisa disebut logis kalau dihubungkan dengan rendahnya pemahaman Pancasila pada generasi muda? Apakah tidak terlalu naif kalau begitu saja menghubungkan kasus penikaman dosen di UMSU dengan rendahnya pemahaman generasi muda kepada Pancasila?

( Artikel ini di tulis  DR.J Pemerhati Kebijakan Publik di Provinsi Kepulauan Riau dan Sumatra )

Latest articles

Ansar Ahmad Akan Manfaatkan APBD Untuk Ciptakan Program Padat Karya

KARIMUN, GURINDAM.TV -- Calon Gubernur Provinsi Kepulauan Riau nomor urut 3 H. Ansar Ahmad SE MM kalau dirinya terpilih sebagai Gubernur Kepri akan berupaya...

Dishub Bintan Launching Sepintas Zikir, Strategi ini Pertama di Indonesia

BINTAN, GURINDAM.TV -- Sepintas Zikir merupakan strategi peningkatan keselamatan lalu lintas melalui zona selamat pariwisata dan uji KIR. Strategi ini menjadi yang pertama di...

Energi Itu Adalah Ansar

Oleh: Birgaldo Sinaga Pilkada di Batam kota tempat saya tinggal ini mulai terasa demamnya. Teman-teman saya bahkan jauh-jauh hari sudah mulai kasak kusuk soal jagoan yang...

Ketika Ansar Ahmad Diserang Para Hatters

Oleh : Suyono Saat Ansar Ahmad pertama kali menyatakan sikapnya untuk maju dalam pemilihan Gubernur Kepulauan Riau berbagai sambutan mewarnai masyarakat. Ada yang menaruh harapan...

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here