Ngeri! Anak Didoktrin Gabung Kelompok JAD oleh Ibunda

JAKARTA, GURINDAM TV — Gurita jejaring kelompok teror Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) di Nusantara bukan selentingan. Keberadaan mereka diperlihatkan dengan menebar ketakutan melalui serangan bersenjata dan bom, yang merenggut banyak nyawa orang.

Jaringan kelompok teror sangatlah luas. Pola perekrutan pun mengalami perkembangan seiring meluasnya akses informasi di era digital saat ini.

Berbekal luasnya akses informasi di masa digital masa kini, cara mereka merekrut pun berubah.
Ideologi mereka tanamkan dalam-dalam di benak pengikutnya turut menembus alam pikir banyak kalangan. Tak lagi terbatas pada mereka yang tertindas dan teraniaya. Bahkan mereka yang hidup berkecukupan pun turut terpikat dengan janji manis ’72 bidadari surga’ dan melakukan serangan bunuh diri.

Dulu pelaku serangan teror direkrut secara mandiri dari orang-orang yang tidak pernah terkait hubungan keluarga. Paling-paling hanya pertemanan. Setelah dibina sekian lama, mereka lantas menjalankan aksi bunuh diri.

Serangan bom di Surabaya memperlihatkan publik pada sebuah kenyataan baru. Para pelakunya kini melibatkan anggota keluarga. Bahkan anak-anaknya turut diajak mengorbankan nyawa untuk melukai atau menghabisi orang lain.
Pola membina dan menanamkan benih-benih terorisme saat ini tidak lagi dilakukan melalui sejawat kelompok-kelompok kajian. Gaya itu sudah dianggap lazim dan kerap diawasi aparat keamanan. Cara mereka kini lebih mutakhir.

Menurut seorang mantan narapidana terorisme, N-M, jejaring teror saat ini memilih membina sebuah keluarga untuk menjadi teroris. Dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV, N-M mengaku sang ibu yang memperkenalkan dan bahkan terus mengajaknya bergabung dengan sebuah kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Jamaah Anshorut Daulah (JAD).

“Karena waktu itu ibu saya banyak berteman dengan orang-orang mereka (JAD). Termasuk dengan para pembesarnya yang ada di Jawa Barat, Ustaz Fauzan Al Anshori, yang waktu itu masih hidup,” ujar N-M, dikutip dari CNN Indonesia TV, Rabu (16/5).

Sang ibu, kata N-M, disumpah setia (bai’at) menjadi pengikut ISIS dan pemimpinnya Abu Bakar al-Baghdadi. Setelah itu timbul kewajiban dia harus mempengaruhi keluarganya.

Pertama, kata N-M, sang ibu mencoba mempengaruhi sang ayah yang waktu itu mendekam di Lapas Kediri, Jawa Timur. Cara itu berhasil. Setelah sang ayah bebas, keduanya pergi menemui Ustaz Fauzan di Jawa Barat, dan ikut disumpah setia.

“Setelah bapak dan ibu berbaiat kepada JAD dan Baghdadi, kemudian mengajak anak-anaknya, terutama saya yang paling besar,” ujar N-M.

Menurut N-M, dia adalah sepuluh bersaudara dan adiknya masih kecil-kecil. Namun, ayah dan ibunya tak peduli. Saban hari mereka terus dicekoki doktrin teror. Caranya bukan cuma lewat ceramah, tetapi juga diperlihatkan tayangan-tayangan kekerasan.

“Diperlihatkan video-video penyembelihan tahanan, Pokoknya tidak manusiawilah. Kebiadaban seperti orang ditenggelamkan, dilindas tank. Semua ini tidak ada di zamannya Rasulullah S.A.W.,” ujar N-M.

Setelah berkali-kali diperlihatkan, N-M menyebut adik-adiknya mulai terbius dan perlahan-lahan pola pikirnya berubah. Mereka lantas menganggap hal-hal seperti itu wajar karena meyakini itu adalah ganjaran orang-orang yang menjadi korban, lantaran dianggap berseberangan, berbeda prinsip, hingga keyakinan.

Setelah ditangkap karena perkara terorisme, N-M mulai berpikir ulang. Di balik jeruji besi dia merenung dan terbersit akan nasib adik-adiknya. Sayangnya, salah satu adiknya sepertinya memilih mengikuti jejak orang tuanya menjadi radikal.

“Orang tua saya berhasil mempengaruhi adik-adik saya, terutama yang nomor lima. Maka dari itu bagaimana usaha saya menyelamatkan adik-adik saya yang lain. Agar supaya jangan sampai ketangkap lagi dan terpengaruh dengan jamaah tersebut,” kata N-M. (CNN Ind/Red )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *