Di Bintan 20 Pelajar Mengalami Kecenderungan perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender LGBT

Group of happy people holding rainbow flag vector illustration. Cartoon drawing of LGBT persons celebrating pride month, woman with megaphone. LGBTQ community, communication, human rights concept


BINTAN, GURINDAM.TV — Di Kabupaten Bintan Kepulauan Riau sekitar 20 pelajar memiliki kecenderungan perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

Kasus ini membuat sejumlah orang tua miris mendengarnya. Entah kenapa di Kabupaten Bintan semakin maraknya kasus dikalangan remaja dan pelajar menjadi trending topik netizen.

Direktur RSJKO, dr Asep Guntur Sapari kepada awak media mengatakan, sejumlah pelajar yang terindikasi mengalami kecendrungan prilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT ) Mereka telah menjalani perawatan dan konseling intensif di Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat (RSJKO) Lobam Bintan.

Saat ini seluruh pelajar menunjukkan perkembangan positif ke kesadaran, ketika melakukan terapi dan bimbingan psikologis.tak hanya itu, mereka sudah menunjukkan hasil yang baik setelah menjalani konseling tersebut,”Ungkapnya, Selasa (11/11/2025).

Sementara itu,berdasarkan Riset yang diperoleh GURINDAM TV dari tahun ke tahun kasus penyimpangan pelajar berprilaku penyimpangan LGBT di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang berhasil dikumpulkan data-data tersebut diantaranya:

Di Kota Batam, Kepri, disebutkan bahwa “sekitar 3.000 pelajar di bawah usia 18 tahun” diduga sebagai lelaki penyuka lelaki (LSL) berdasarkan laporan dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kepulauan Riau.

Di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan, terdapat laporan bahwa komunitas gay muncul di kalangan pelajar SMP/SMA.

Banyak pihak di Kepri melihat fenomena LGBT di kalangan pelajar sebagai tantangan moral, sosial dan kesehatan. Misalnya, sekolah diminta memperkuat pendidikan keagamaan/kerohanian agar “tidak mudah terbawa arus”.

Data/Kasus Spesifik

Laporan menyebut bahwa di Bintan, siswa (pelajar) terindikasi masuk kelompok LGBT — 5 anak di bawah umur di satu kabupaten disebut sebagai terindikasi.

Di Tanjungpinang, dari Januari-September 2024 tercatat 86 kasus HIV, “paling banyak dari klaster LGBT atau akibat hubungan sesama jenis”.

Komunitas LGBT di Batam dilaporkan “menyasar pelajar”, menurut laporan tahun 2023.

Tantangan & Konteks

Instrumen data dan penelitian yang bersifat publik dan spesifik untuk pelajar LGBT di Kepri sangat terbatas — banyak informasi yang bersifat media/indikasi, bukan penelitian akademik lengkap.

Lingkungan sosial dan budaya di Kepri tampak cukup konservatif terhadap LGBT — ada gerakan “Tolak LGBT” oleh organisasi pemuda/mahasiswa diTanjungpinang/Bintan.

Sebagai contoh, salah satu artikel resmi dari pihak kepolisian Kepri menekankan bahwa “Waspada LGBT” dalam konteks pemuda dan generasi muda, namun dengan narasi yang sangat terikat pada nilai-agama dan budaya lokal.

Implikasi untuk Pelajar & Sekolah

Untuk pelajar LGBT atau remaja yang merasa berbeda, kondisi di Kepri bisa cukup menantang dari sisi penerimaan sosial maupun dukungan institusional (karena norma sosial yang kuat).

Sekolah dan orang tua tampaknya didorong untuk:

Menguatkan pendidikan karakter/keagamaan sebagai “perlindungan” terhadap pengaruh yang dianggap menyimpang.

Memperhatikan dampak kesehatan (misalnya HIV, sifilis) yang dikaitkan dalam laporan kepada kelompok LGBT atau perilaku sesama jenis. ( Red )

No comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *