Presiden Donald Trump Ngotot Mau Mengambil Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan yang kini dikuasai Pemerintahan Taliban


JAKARTA, GURINDAM.TV — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump ngotot mau mengambil pangkalan udara Bagram di Afghanistan yang kini dikuasai pemerintahan Taliban. Trump bahkan mengklaim telah memberikan sebidang tanah yang pernah dikuasai militernya itu secara cuma-cuma kepada Taliban.

Tak tanggung-tanggung, Trump bahkan mengancam Taliban jika tak mengabulkan keinginannya menguasai pangkalan udara yang jaraknya hampir 8.000 km (4.970 mil) dari Washington itu.

“Kami memberikannya kepada (Taliban) tanpa imbalan. Kami ingin pangkalan itu kembali,” ujarnya dikutip dari Aljazeera, Kamis (9/10/2025).

“Jika Afghanistan tidak mengembalikan pangkalan udara Bagram kepada mereka yang membangunnya, Amerika Serikat, hal-hal buruk akan terjadi!” ancam Trump dua hari kemudian di media sosial.

Keinginan Trump itu sontak menuai reaksi dari Taliban hingga negara-negara tetangga Afghanistan yang memiliki kepentingan, termasuk China dan Rusia. Mereka menentang keras keinginan Trump tersebut.

Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan

Komentar Trump muncul saat Pentagon terus mendorong peninjauan atas penarikan pasukan AS dari Afghanistan, di mana 13 anggota militer AS dan 170 warga Afghanistan tewas di bandara Kabul dalam sebuah pemboman oleh ISIS. Demikian dilansir NBC News, Jumat (10/10/2025).

Trump yang memulai proses penarikan pasukan AS dari Afghanistan selama masa jabatan pertamanya, telah menjadi kritikus keras terhadap penanganan penarikan pasukan oleh pemerintahan Biden.

Gedung Putih di bawah Presiden Joe Biden sebagian besar menyalahkan pemerintahan Trump atas penarikan pasukan yang kacau, dengan laporan Dewan Keamanan Nasional yang dirilis pada tahun 2023 yang menyatakan bahwa pilihan Biden untuk melaksanakan operasi tersebut “sangat dibatasi oleh kondisi yang diciptakan oleh pendahulunya.

Pangkalan Udara Bagram Afghanistan

Landasan bagi kembalinya Taliban memegang kekuasaan di Afghanistan diletakkan di Doha pada Januari 2020, di bawah pemerintahan pertama Trump. Taliban akhirnya mengambil alih Afghanistan pada Agustus 2021, selama masa jabatan pemerintahan mantan Presiden Joe Biden.

Namun pada bulan Februari tahun ini, sebulan setelah diambil sumpah untuk masa jabatan keduanya, Trump bersikeras akan mengambil kembali Bagram dan menempatkan pasukan di sana.

Bagram, 44 km (27 mil) di utara Kabul, awalnya dibangun oleh Uni Soviet pada tahun 1950-an. Pangkalan ini memiliki dua landasan pacu beton – satu sepanjang 3,6 km (2,2 mil), yang lainnya sepanjang 3 km (1,9 mil) – dan merupakan salah satu dari sedikit tempat di Afghanistan yang cocok untuk pendaratan pesawat militer besar dan pengangkut senjata.

Kota ini menjadi pangkalan strategis bagi banyak kekuatan yang telah menduduki, menguasai, dan memperebutkan Afghanistan selama setengah abad terakhir. Diambil alih oleh pasukan NATO pimpinan AS setelah invasi Afghanistan menyusul serangan 11 September, Bagram merupakan fasilitas utama dalam apa yang disebut “perang melawan teror” Washington.

Medan Afghanistan yang terjal dan bergunung-gunung membuat lokasi yang mampu berfungsi sebagai pusat logistik militer besar terbatas. Kelangkaan inilah yang membuat Bagram tetap mempertahankan signifikansi strategisnya, empat tahun setelah AS menarik diri dari negara itu.(Med/Red )

No comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *