Inilah Pemuda Ganteng Tengah Berjuang Tangan Kanannya Memegang Bendera Palestina dan Tangan Kirinya Mengayun Sebuah Ketapel


JAKARTA, GURINDAM. TV — Di tangan kanannya dia memegang bendera Palestina dan tangan kirinya tengah mengayun sebuah ketapel.

Ekspresi wajahnya menunjukkan tekad kuat dan saat itu dia bertelanjang dada, sementara asap membumbung di latar belakang. Aed Abu Amro baru berusia 20 tahun ketika jurnalis foto Mustafa Hassona menangkap foto kuat ini saat sebuah protes penuh kekerasan di Gaza pada 22 Oktober 2018.

Tak lama kemudian, foto itu viral. Banyak orang membandingkannya dengan lukisan terkenal Eugène Delacroix dari tahun 1830, Liberty Leading the People karena kemiripan antara pose tokoh utama dan suasana menggugah dalam kedua gambar.

Sejumlah orang memuji foto Hassona karena dianggap melambangkan simbolisme “Daud melawan Goliat”.

(foto ikonik palestina Mustafa Hassona)

Simbol perlawanan

Bagi Aed, reaksi global terhadap foto tersebut menjadi sebuah pengalaman yang membuka mata.

“Saya terkejut dengan seberapa cepat foto itu menyebar,” kata Aed kepada The Electronic Intifada dalam sebuah wawancara.

Perbandingan dengan lukisan Delacroix membuatnya bangga, katanya, dan telah mendorongnya untuk terus berjuang, meskipun secara tidak sengaja menjadi ikon juga membawa tanggung jawab tersendiri.

“Orang-orang menganggap foto itu sebagai simbol perlawanan. Hal ini membuat saya semakin teguh dan tetap berada di antara mereka yang menolak blokade Israel. Menjadi simbol itu luar biasa, tetapi penjajahan masih terus terjadi.”

Dikutip laman Another Man, sebagian orang mengatakan foto itu mengagungkan kekerasan; yang lain menuntut agar romantisasi terhadap gambar seperti itu dihentikan.

“Di balik energi kinetik yang terasa dan dinamisme visualnya, tersembunyi salah satu situasi hak asasi manusia paling putus asa di dunia,” tulis kontributor Another Man, Louis Staples, dalam artikelnya yang menggugah untuk The Independent.

“Tidak ada yang indah atau puitis dari penindasan terhadap rakyat Palestina.”

(aed abu amro Mohammed Asad)

Dan Hassona, yang juga berasal dari Jalur Gaza, tentu memahami hal itu. Sebagai fotografer dari Anadolu Agency, ia secara rutin mengunjungi Gaza untuk meliput protes mingguan dan telah mengalami kekerasan secara langsung berkali-kali.

“Puluhan orang datang setiap minggu dan mereka memprotes dengan berbagai cara. Beberapa membakar ban, ada yang mengibarkan bendera Palestina. Yang lain melempar batu. Pria di foto itu berdiri di depan saya, jadi saya langsung memotret. Saya tidak sempat berbicara dengannya.”

Para pengunjuk rasa Palestina mengadakan demonstrasi secara rutin untuk menuntut hak kembali ke Palestina dan menyerukan diakhirinya blokade Jalur Gaza yang diberlakukan oleh Israel sejak 2007.

Pasukan Israel menanggapi dengan gas air mata dan tembakan langsung.

(foto Mustafa Hassona X )

Aed, rutin menjadi peserta tetap dalam aksi protes Great March of Return di Gaza.

Namun, aktivismenya juga membawa konsekuensi. Ia telah beberapa kali terkena granat gas air mata, teman-temannya banyak yang terluka, dan salah satu dari mereka, Ahmad Yaghi, 25 tahun, tewas pada Agustus 2017.

Pada 5 November 2018, sebuah peluru menyambar kaki kiri Aed saat mengikuti protes di pesisir pantai menentang blokade laut. Dia terluka namun tak gentar. Beberapa hari kemudian, ia kembali lagi ke aksi Great March of Return.

Lalu pada 23 November, saat kembali berada di pagar timur Kota Gaza, Aed kembali tertembak — kali ini di kaki kanannya, dan kali ini lebih parah.

Dokter memberitahunya bahwa ia terkena apa yang disebut sebagai peluru kupu-kupu (butterfly bullet), proyektil yang terbuka saat mengenai target untuk menimbulkan kerusakan maksimal.

Peluru tersebut menyebabkan kerusakan parah pada lutut dan tulang-tulang lain di kakinya, membuatnya tidak bisa menggerakkan jari-jari kaki dan harus terus-menerus mengonsumsi obat penghilang rasa sakit.

Cedera itu memaksanya berhenti mengikuti aksi demo. Cedera itu membuatnya tak bisa lagi pergi ke gym.

(foto aed abu amro Mohammed Asad )

Foto itu merupakan bagian dari seri karya fotografer lepas tersebut berjudul Palestinian Right of Return Protests, yang memenangkan penghargaan dalam Sony World Photography Awards tahun ini. Foto ini disebut-sebut sebagai ‘ikonik’ – Hassona percaya bahwa sebuah foto bisa menjadi ikonik karena “kesederhanaan dan kekuatan di dalamnya” – namun pada kenyataannya, semua foto karyanya terasa mendesak dan nyata; Anda seperti turut berada di tengah kekacauan bersamanya.

Hassona percaya bahwa foto itu mendapatkan begitu banyak perhatian “karena menggambarkan pesan yang ingin disampaikan rakyat Palestina kepada dunia. Foto ini merangkum penderitaan bertahun-tahun dalam satu gambar.”

Keteguhan dan keyakinannya Aed Abu Amro terhadap perjuangan, yang begitu jelas terlihat dalam foto Hassona, ditegaskan oleh pernyataannya kepada media: “Bahkan jika saya menjadi sasaran peluru Israel, bendera ini akan tetap berada di tangan saya.”

Seperti tokoh dalam fotonya, Hassona juga tetap berkomitmen terhadap perjuangan Palestina.

“Saya sangat bangga menjadi fotografer yang telah meliput tiga perang dahsyat di Gaza dan terus meliput semua peristiwa yang terjadi di sini. Saya telah melalui banyak pasang surut, tapi Gaza selalu membantu saya untuk bangkit kembali.” Ia pun memimpikan kemerdekaan Palestina.

“Impian saya tentang kebebasan membuat saya ingin terus melakukan pekerjaan ini,” kata dia.

“Saya ingin pergi ke luar negeri suatu hari nanti untuk menceritakan lebih banyak kepada orang-orang tentang kisah bangsa saya dan agar orang lain tahu bahwa penderitaan kami itu nyata dan bukan hanya dalam foto yang bisa dilupakan suatu hari nanti.” (Med/Red )

No comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *