ANAMBAS, GURINDAM.TV — Beberapa hari terakhir, keputusan saya menolak pengadaan mobil dinas senilai Rp1,5 miliar menjadi perbincangan masyarakat. Banyak yang bertanya mengapa saya mengambil keputusan itu. Ada yang menganggapnya sebagai langkah yang biasa saja, ada pula yang menilainya sebagai bentuk penghematan anggaran. Namun bagi saya, keputusan tersebut lahir dari hati dan dari kesadaran akan amanah yang sedang saya emban sebagai Bupati Anambas.
Sejak awal saya dipercaya memimpin daerah ini, saya selalu berusaha menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat. Jabatan bukanlah tentang kemewahan, bukan tentang fasilitas, apalagi tentang gengsi. Jabatan adalah tanggung jawab. Setiap rupiah yang berasal dari uang rakyat harus dipertanggungjawabkan kembali kepada rakyat.
Ketika saya melihat rencana pengadaan mobil dinas baru dengan nilai Rp1,5 miliar, saya bertanya kepada diri sendiri: apakah ini benar-benar kebutuhan yang paling mendesak bagi masyarakat Anambas saat ini?
Jawabannya sederhana: tidak.
Saya teringat masih ada jalan yang perlu diperbaiki. Masih ada fasilitas umum yang membutuhkan perhatian. Masih ada masyarakat yang berharap pelayanan kesehatan lebih baik, pendidikan yang lebih layak, dan peluang ekonomi yang lebih luas. Dalam situasi seperti itu, hati saya tidak tega jika anggaran sebesar itu digunakan untuk membeli kendaraan baru bagi saya.
Saya tidak memiliki masalah jika harus menggunakan kendaraan yang sudah ada. Bahkan jika harus naik sepeda motor untuk menjangkau masyarakat, saya siap melakukannya. Bagi saya, kendaraan hanyalah alat. Yang terpenting adalah tujuan dan manfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat.
Saya lahir dan tumbuh dari kehidupan yang sederhana. Saya memahami bagaimana rasanya menunggu pembangunan datang ke kampung, bagaimana harapan masyarakat sering kali bergantung pada keputusan pemerintah. Karena itu saya ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang saya ambil selalu mempertimbangkan kepentingan masyarakat terlebih dahulu.
Saya percaya rakyat tidak menilai pemimpinnya dari mobil yang ditumpanginya. Rakyat menilai dari keberanian mengambil keputusan yang berpihak kepada mereka. Rakyat menilai dari kesungguhan bekerja, dari kehadiran pemimpin di tengah kesulitan mereka, dan dari hasil pembangunan yang benar-benar dirasakan.
Menjadi Bupati Anambas adalah kehormatan besar bagi saya. Namun kehormatan itu tidak bertambah karena kendaraan yang lebih mahal. Kehormatan itu justru lahir ketika saya mampu menjaga kepercayaan masyarakat dan menggunakan anggaran daerah secara bijaksana.
Karena itu saya memilih menolak pengadaan mobil dinas tersebut. Bukan karena ingin dipuji, bukan pula untuk mencari popularitas. Saya hanya ingin memberikan contoh bahwa pemerintah harus memulai dari dirinya sendiri ketika berbicara tentang efisiensi, kesederhanaan, dan keberpihakan kepada rakyat.
Saya ingin dikenang bukan karena mobil dinas yang saya gunakan, tetapi karena keputusan-keputusan yang memberi manfaat bagi masyarakat Anambas.
Biarlah saya naik motor. Biarlah fasilitas saya sederhana. Asalkan masyarakat Anambas semakin sejahtera, pembangunan terus berjalan, dan harapan rakyat dapat diwujudkan. Karena itulah sesungguhnya tujuan saya mengabdi.(*)


No comment