TANJUNGPINANG, GURINDAM.TV — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Kota Tanjungpinang, ada sebuah kisah sederhana yang menyimpan kepedihan mendalam.
Namanya Firman, seorang siswa SLB di Tanjungpinang. Setiap hari, ia harus menunggu bus sekolah untuk berangkat menuntut ilmu.
Rutinitas yang bagi sebagian anak mungkin terlihat biasa, namun bagi Firman, perjalanan menuju sekolah adalah bagian dari perjuangan hidup yang tidak ringan.
Firman adalah anak yatim piatu. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia secara tragis beberapa tahun lalu dalam sebuah peristiwa di kawasan Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.
Sejak kehilangan kedua orang tuanya, kehidupan Firman berubah. Kini, ia bersama adiknya menjalani kehidupan dengan perhatian dan kasih sayang dari seorang nenek yang telah berusia 81 tahun.
Di usia senjanya, sang nenek tetap berusaha menjadi tempat berlindung bagi kedua cucunya.
Dengan segala keterbatasan yang ada, ia merawat, mendampingi, dan memastikan Firman tetap bisa bersekolah.
Setiap pagi, Firman kembali menunggu bus sekolah.
Di balik wajah polos seorang anak, tersimpan perjalanan hidup yang mungkin terlalu berat untuk usianya.
Ia tetap berusaha menjalani hari, belajar, dan menatap masa depan meski harus tumbuh tanpa kehadiran ayah dan ibunya.
Kisah Firman bukan hanya tentang kesedihan. Ini juga tentang keteguhan seorang anak, kasih sayang seorang nenek, dan harapan agar pendidikan tetap menjadi jalan bagi masa depannya.
Di tengah keterbatasan, Firman masih memiliki satu hal yang tidak boleh padam: harapan.
Semoga perhatian dari pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan para dermawan dapat hadir untuk membantu Firman dan adiknya menjalani kehidupan yang lebih layak.
Karena setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, kasih sayang, dan kesempatan untuk memiliki masa depan.
Firman hanya ingin bersekolah. Dan di balik langkah kecilnya menuju sekolah, ada sebuah perjuangan besar yang layak kita dengarkan. ( Red )


No comment